Selasa, 08 Juni 2010

Pelajaran Yang Tak Pernah Aku Tamatkan

Ada jenis pelajaran yang aku selalu gagal lulus dari ujiannya. Pelajaran itu benama buruk sangka. Di usia kanak-kanakku dulu, aku pernah amat terhina ketika disapa dengan cara yang menurutku tidak semestinya. Aku punya panggilan kesayangan yang membuat aku ketagihan. Penyebutan di luar sebutan itu, apalagi langsung main sebut nama asliku, akan terasa asing dan tidak ramah di hatiku. Aku akan menafsirkan pemanggil itu sebagai orang yang tidak sayang kepadaku. Dan aku bisa menjadi pemberontak di hadapannya.

Begitu juga dengan orang tua satu ini. Ia saudara jauhku, pertama kali bertemu dan kasar memaggilku. Aku marah sekali dan kujawab ia dengan tak kalah kasarnya sebagai bukti perlawananku. Orang tua itu terpana. Ia kaget sekali atas reaksiku. Bertahun kemudian baru kusadari betapa reaksiku itu cuma bikin malu. Ia adalah saudara yang amat baik kepadaku. Ia tidak kasar, cuma serba menggelagar. Hingga saat ini, sikap itu adalah jenis kebodohan yang amat aku sesali.

Ketika masuk umur remaja, aku mulai jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seseorang yang menurutku jelek sekali. Ya wajahnya, ya kelakuannya. Jika di sekolah kami ketemu, dengan suka cita aku menyingkirinya. Jika kebetulan aku melihat dia sedang bercanda, kuanggap hanya teknik menarik perhatianku saja. Bertambah tambah belaka kejengkelanku padanya.

Lama aku membenci gadis ini sampai kemudian aku mengerti reputasinya. Ternyata ia selalu ranking satu, tulisannya rapi, bintang organisasi dan yang naksir banyak sekali. Melihat bahwa ia bukan sembarang perempuan, tiba-tiba semuanya berubah. Tertawanya berubah menjadi merdu, senyumnya mengharu-biru dan wajahnya jadi cantik sekali. Pelan tapi pasti, aku jatuh cinta kepadanya. Dan ketika cintaku sudah sedemikian rupa, ia ganti menolakku! Eh, tepatnya bukan menolak, karena bahkan ia tak pernah menggubrisku!

Ketika aku sudah mulai bekerja, aku merasa jagoan dalam profesiku. Maka ketika ada orang yang menurutku bodoh tapi sok tahu, seluruh kebencianku tertumpah kepadanya. Aku masuk dalam geng gosip yang menggunjingnya dan menyebut-nyebut bentuk kepalanya sebagai kepala duren! Ya buah durian itulah yang kami sebut mirip kepalanya, bukan benar-benar karena bentuknya, melainkan pasti karena kebencian kami saja.

Tetapi astaga, orang yang aku benci inilah orang yang kemudian menolong kami ketika sedang dalam kesulitan masuk gedung pertunjukkan. Ia adalah orang yang dengan jelas menunjukkan kualitas budinya, ketika kami sedang dalam kesusahan. Kini aku selalu mengingat orang ini dengan rasa hormat yang mendalam. Bertahun-tahun aku meratapi kesalahan ini dan berjanji tak akan memandang rendah orang lagi.

Tapi janji memang cuma janji. Bayangkan, jika aktor sekelas Roy Marten saja bisa kejebak kesalahan dua ka kali, apalagi diriku yang pasti bukan Roy. Maka kesalahan yang sama pun terulang lagi. Kali ini menyangkut orang tua yang mengetuk-etuk pintu rumah dengan kerasnya. Ia orang asing dengan dandanan sederhana dan tak kukenal pula. Maka satu saja tafsirku: ini pasti pencari sumbangan yang memang gemar lalu-lalang di kampungku. Gayanya khas, keramahannya palsu, terbukti jika ditolak ia berlalu sambil menggerutu. Ia juga bisa main gebrak pintu tanpa kenal waktu. Maka melihat orang tua ini yang terus mengetuk-ngetuk pintu itu sudah cukup membuat kesal hatiku. Kutemui dia cuma untuk segara menghardiknya. Tapi alamak, ia ternyata adalah pemilik urusan yang telah lama aku rindu. Ada sebuah urusan yang jika orang ini tak ada, akan menjadi gelap akhirnya. Aku sudah pusing mencari siapa orang ini dan di mana alamatnya, tahu-tahu malah nongol sendiri di rumahku.

Tetapi sunguh, aku lupa bergembira karena telah sibuk didera rasa malu. Ketika ia pamit, aku menatap orang tua itu dengan perasaan remuk redam dan rasa bersalah yang gagal aku ungkapkan. Aku khawatir, buruk sangka adalah jenis ujian yang aku tak kunjung sanggup menamatkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar